Tiga Anak Keluarga Shilvia Tan dan Muaddz Masuk Kristen, Ini Alasan di Baliknya
Katolik Terkini - Perbedaan keyakinan dalam keluarga sering kali menjadi ujian berat bagi pasangan suami istri. Hal inilah yang dialami oleh Shilvia Tan dan Muaddz, pasangan yang mengalami perjalanan spiritual yang penuh tantangan.
Tidak hanya mereka sendiri yang harus menghadapi perubahan dalam keyakinan, tetapi mereka juga harus menerima kenyataan bahwa ketiga anak mereka memutuskan untuk masuk Kristen.
Kisah ini bukan sekadar cerita tentang perbedaan agama dalam keluarga, tetapi juga tentang cinta, penerimaan, dan keikhlasan seorang ibu dalam menghadapi ujian yang begitu besar.
Keputusan anak-anak mereka untuk berpindah agama menjadi sebuah titik balik dalam kehidupan keluarga ini, yang membawa banyak pelajaran berharga bagi siapa saja yang mengalaminya.
Perjalanan Spiritualitas Shilvia Tan dan Muaddz
Perjalanan iman mereka dimulai ketika Muaddz, suami Shilvia, memutuskan untuk masuk Islam. Sebelumnya, mereka menjalani rumah tangga dengan perbedaan keyakinan, tetapi selalu berusaha saling menghormati. Namun, keputusan Muaddz untuk masuk Islam membawa perubahan besar dalam keluarga mereka.
Meskipun kebahagiaan dirasakan oleh Shilvia atas keputusan suaminya, ujian lain muncul di tengah-tengah keluarga mereka. Anak-anak mereka justru tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dan mengalami pengalaman yang membuat mereka memilih jalan spiritual yang berbeda.
Pada awalnya, Shilvia memasukkan anak-anaknya ke sekolah Islam. Harapannya, mereka bisa mendapatkan pendidikan agama yang baik dan lingkungan yang sesuai dengan keyakinannya. Namun, lingkungan sekolah ternyata tidak seideal yang diharapkan.
Tantangan di Sekolah dan Pengaruh Lingkungan
Anak-anak Shilvia dan Muaddz menghadapi perlakuan diskriminatif di sekolah karena latar belakang etnis mereka. Salah satu anaknya bahkan pernah bertanya tentang apa yang dimaksudkan teman-temannya yang sering memanggilnya "cina".
Saat itu, Shilvia sangat terkejut karena rupanya anak-anaknya sering diejek dan mendapatkan perlakuan yang kurang baik hanya karena penampilan fisik mereka.
Tak ingin anak-anaknya terus mengalami tekanan sosial, Shilvia dan Muaddz memutuskan untuk menarik mereka dari sekolah Islam dan memasukkan mereka ke homeschooling. Namun, metode ini pun tidak berjalan dengan baik. Anak-anak justru merasa kesepian dan kurang bersosialisasi.
Akhirnya, mereka mencari sekolah yang lebih inklusif. Pilihan jatuh pada sekolah dengan mayoritas siswa beragama Kristen. Sekolah ini memberikan lingkungan yang lebih terbuka dan mendukung bagi anak-anak mereka.
Seiring berjalannya waktu, anak-anak mulai merasa nyaman dengan lingkungan sekolahnya. Mereka mulai aktif dalam berbagai kegiatan dan bahkan mulai tertarik dengan ajaran agama Kristen yang diajarkan di sekolah mereka.
Keputusan Anak-Anak untuk Masuk Kristen
Setelah dua tahun belajar di sekolah barunya, salah satu anak Shilvia mengajukan pertanyaan yang mengubah segalanya.
"Mama, boleh nggak aku masuk Kristen?" cerita Shilvia di podcast Denny Sumargo.
Saat mendengar pertanyaan itu, hati Shilvia terasa hancur. Ia menangis, namun tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di hadapan anak-anaknya. Sebagai seorang ibu, ia ingin memberikan yang terbaik untuk mereka, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan perasaan dan keyakinannya sendiri.
Namun, dengan penuh keikhlasan, ia menjawab, "Sayang, bagi Mama, agama itu bukan paksaan. Agama juga bukan warisan. Kalau kamu benar-benar meyakini Kristen sebagai agama yang kamu pilih, Mama ikhlas."
Jawaban ini bukan hal yang mudah bagi Shilvia. Ia membutuhkan keberanian dan keteguhan hati untuk bisa menerima kenyataan bahwa anak-anaknya memilih jalan yang berbeda dari yang ia harapkan.
Tak lama setelah itu, dua anak lainnya juga menyatakan keinginan yang sama. Mereka merasa nyaman dengan ajaran yang mereka pelajari di sekolah dan memutuskan untuk memeluk Kristen sebagai keyakinan mereka.
Reaksi Keluarga dan Masyarakat
Keputusan anak-anak Shilvia tentu mengundang berbagai reaksi dari keluarga dan masyarakat luas. Ada yang mendukung, tetapi tidak sedikit yang mengkritik dan menyalahkan Shilvia serta Muaddz atas keputusan anak-anak mereka.
Sebagian besar komentar negatif datang dari mereka yang menganggap bahwa keputusan anak-anak ini adalah akibat dari kurangnya bimbingan agama dari orang tua mereka. Ada juga yang menilai bahwa seharusnya Shilvia lebih tegas dalam mendidik anak-anaknya agar tetap berada dalam keyakinan yang sama dengannya.
Namun, bagi Shilvia dan Muaddz, perjalanan spiritual adalah sesuatu yang sangat pribadi. Mereka memahami bahwa anak-anak mereka memiliki kebebasan dalam memilih keyakinan mereka sendiri. Yang terpenting bagi mereka adalah anak-anak tetap tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab.
Pelajaran dari Kisah Ini
Dari kisah Silvia Tan dan suamnya, kita bisa mengambil banyak pelajaran berharga. Beberapa di antaranya adalah:
1. Keikhlasan dalam Menerima Perbedaan
Tidak mudah bagi seorang ibu untuk menerima kenyataan bahwa anak-anaknya memilih jalan yang berbeda dalam keyakinan. Namun, Shilvia mengajarkan bahwa cinta seorang ibu tidak boleh bersyarat.
2. Agama Adalah Pilihan Hati
Tidak ada paksaan dalam agama. Setiap pribadi memiliki perjalanan spiritualnya sendiri, dan yang terpenting adalah bagaimana mereka menjalankan keyakinan tersebut dengan baik.
3. Menghormati Keputusan Orang Lain
Dalam keluarga, perbedaan keyakinan bisa menjadi tantangan yang besar. Namun, dengan komunikasi yang baik dan saling menghormati, perbedaan ini dapat diterima tanpa harus memutus hubungan keluarga.
4. Tuhan Punya Rencana untuk Setiap Orang
Shilvia percaya bahwa semua ujian yang ia hadapi adalah bagian dari rencana Tuhan. Meskipun sulit, ia yakin bahwa ada maksud di balik setiap kejadian.
Kisah keluarga Shilvia Tan dan Muaddz mengajarkan kita banyak hal tentang ketulusan, cinta, dan penerimaan. Dalam menghadapi ujian hidup, keikhlasan dan kasih sayang menjadi kunci utama.
Tidak ada yang bisa memprediksi bagaimana perjalanan spiritual seseorang akan berjalan. Namun, yang terpenting adalah bagaimana kita tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga dan orang-orang terdekat, tanpa memandang perbedaan yang ada.
Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk lebih memahami arti toleransi, kebebasan beragama, dan keteguhan dalam menghadapi setiap ujian hidup.(AD)
Posting Komentar