Hidup Sederhana, Iman Kuat: Perjuangan Komunitas Adivasi Kristen di Chhattisgarh
![]() |
Sumber foto dari Vatican News |
Katolik Terkini – Di sebuah desa kecil di negara bagian Chhattisgarh, Mongala menyambut tamunya dengan senyum ramah di rumahnya yang sederhana.
Ia berasal dari komunitas Adivasi, masyarakat pribumi India yang menghadapi berbagai tantangan sosial dan ekonomi. Namun, meskipun hidup dalam keterbatasan, Mongala dan keluarganya tetap teguh dalam iman Kristen mereka.
Siapa Adivasi?
Adivasi, yang berarti "penduduk asli" dalam bahasa Sanskerta, adalah komunitas pribumi terbesar di dunia, mencakup sekitar 8,6% dari populasi India atau sekitar 104,3 juta orang menurut sensus 2011. Mereka memiliki keanekaragaman budaya yang luar biasa, dengan lebih dari 600 suku berbeda dan ratusan bahasa yang digunakan.
Secara tradisional, Adivasi adalah pemburu dan pengumpul yang bergantung pada hutan untuk bertahan hidup. Namun, perubahan kebijakan pemerintah dan perkembangan industri telah menggusur mereka dari tanah leluhur, menyebabkan kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi.
Peran Gereja dalam Kehidupan Adivasi
Selama bertahun-tahun, Gereja telah memainkan peran penting dalam mendukung komunitas Adivasi, terutama mereka yang telah memeluk agama Kristen. Di berbagai keuskupan, Gereja membangun sekolah, pusat pelatihan keterampilan, dan fasilitas kesehatan untuk membantu mereka mendapatkan pendidikan serta pekerjaan yang lebih baik.
“Gereja telah banyak membantu kami,” kata Pastor Shinod Chacko, seorang imam Katolik Syro-Malabar yang mendedikasikan hidupnya bagi kesejahteraan Adivasi.
“Kami mengajarkan mereka teknik pertanian modern dan mendorong pendidikan bagi anak-anak perempuan.”
Menurut sensus 2011, jumlah umat Kristen di India mencapai 27,8 juta jiwa, dengan sekitar 10,03 juta berasal dari komunitas Adivasi. Banyak dari mereka adalah generasi kedua yang mendapat manfaat dari pendidikan di sekolah Katolik.
Tantangan dan Diskriminasi terhadap Adivasi Kristen
Meskipun ada kemajuan, komunitas Adivasi Kristen masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk diskriminasi dan kekerasan dari kelompok nasionalis Hindu. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan terhadap umat Kristen meningkat drastis.
Forum Kristen Bersatu mencatat 834 kasus kekerasan terhadap umat Kristen di India pada tahun 2024, meningkat dari hanya 127 kasus satu dekade sebelumnya.
“Kami dihukum karena menjadi Kristen,” ujar Pastor Masu Karma dari Gereja Katolik Syro-Malabar di Kurenga, Chhattisgarh. “Namun, iman kami semakin kuat dan kami tidak akan menyerah.”
Selain itu, kebijakan pemerintah juga semakin mempersempit kebebasan beragama. Hingga Desember 2024, 12 negara bagian di India telah memberlakukan undang-undang anti-konversi yang menghambat kebebasan komunitas Adivasi untuk memilih agama mereka.
Harapan untuk Masa Depan
Di tengah tantangan yang dihadapi, banyak komunitas Adivasi Kristen tetap optimis terhadap masa depan. Uskup Syro-Malabar Jagdalpur, Mar Joseph Kollamparambil, menegaskan bahwa misi Gereja bukan hanya soal konversi, tetapi juga pembangunan sosial.
“Kami membangun jalan, sekolah, dan pusat pelatihan agar mereka memiliki keterampilan untuk hidup lebih baik,” katanya. “Tuhan bersama kami, meskipun ada kesulitan dan tantangan.”
Dengan adanya dukungan dari Gereja dan komunitas global, harapan masih ada bagi komunitas Adivasi Kristen untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus meninggalkan iman mereka.(AD)
Berita ini disadur dari Vatican News
Posting Komentar